Dosen FEB UNG Andi Juana Tekankan Strategi Digital Marketing Berbasis Storytelling untuk Memperkuat Branding Fashion Karawo

Oleh: Fazri Mohehu . 31 Oktober 2026 . 09:28:06

GORONTALO, 31 Oktober 2026 – Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Andi Juanna, S.Pd, M.Sc, yang memiliki bidang keahlian Manajemen dan Pemasaran (Management & Marketing) menekankan pentingnya strategi digital marketing berbasis storytelling dalam memperkuat identitas dan daya saing kain sulaman Karawo sebagai salah satu warisan budaya khas Gorontalo. Menurutnya pada acara Talkshow Bincang Santai RRI, promosi Karawo di era digital tidak seharusnya hanya berorientasi pada penjualan produk, tetapi juga perlu mengangkat nilai budaya, filosofi, keunikan motif, serta proses panjang di balik pembuatannya (31/10/26).

Dalam diskusi bertema “Menyulam Karawo, Mengangkat Budaya Lewat Konten”, Andi Juana menjelaskan bahwa Karawo memiliki karakteristik yang berbeda dari produk fesyen yang diproduksi secara massal melalui konsep fast fashion. Karawo justru memiliki keunggulan pada konsep slow fashion, yakni proses produksi yang membutuhkan ketelitian, keterampilan, waktu, dan sentuhan tangan manusia.

Ia menjelaskan bahwa proses pemotongan serat kain, penyulaman, hingga penyambungan benang merupakan bagian dari keaslian dan autentik Karawo yang tidak semestinya dihilangkan demi mengejar kecepatan produksi. Keunikan tersebut menjadi nilai tambah yang membedakan Karawo dari produk fesyen lainnya.

“Ketika berbicara tentang digitalisasi Karawo, yang perlu didigitalisasi bukan karakter produknya, melainkan konten dan narasi yang menjelaskan keunikan Karawo. Kita perlu menceritakan bagaimana proses pembuatannya, siapa pengrajinnya, apa makna motifnya, dan mengapa proses tersebut membutuhkan waktu yang panjang,” jelasnya.

Lebih lanjut, Andi Juana menyoroti pentingnya membangun brand positioning dalam strategi pemasaran Karawo. Branding tidak cukup hanya diwujudkan melalui pembuatan logo, nama merek, atau kemasan yang menarik. Lebih dari itu, branding harus mampu membentuk persepsi dan identitas yang kuat di benak konsumen mengenai apa yang membuat Karawo berbeda dan bernilai.

Menurutnya, strategi pemasaran secara umum memang dapat dibangun melalui berbagai aspek, seperti harga, kualitas produk, tempat, dan promosi. Namun, untuk Karawo, pendekatan promosi yang paling potensial adalah melalui aktivitas pengrajin dan storytelling yang mampu menggambarkan keseluruhan nilai produk.

Ia menilai masyarakat secara umum masih mengenal Karawo sebatas kain atau produk fesyen. Padahal, terdapat nilai yang jauh lebih luas di balik setiap helai sulamannya. Oleh karena itu, konten digital harus mampu mengedukasi masyarakat mengenai proses pembuatan, keterampilan pengrajin, filosofi motif, hingga tradisi yang berkaitan dengan penggunaan Karawo.

“Kalau kita bertanya kepada masyarakat awam, Karawo itu apa, mungkin sebagian besar hanya menjawab bahwa Karawo adalah kain. Padahal, kita harus memperkenalkan lebih jauh apa yang ada di balik kain tersebut. Bagaimana prosesnya, siapa yang membuat, bagaimana ketelatenannya, dan apa nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Di sinilah pentingnya storytelling,” ungkapnya.

Andi Juana juga mengidentifikasi tiga nilai utama yang dapat menjadi fondasi promosi Karawo melalui konten digital, yaitu heritage, eco-friendly, dan sustainability.

Pertama, heritage atau warisan budaya. Karawo merupakan identitas budaya yang memiliki kekhasan lokal dan tidak ditemukan dengan karakter yang sama di daerah lain. Nilai ini dapat menjadi kekuatan diferensiasi dalam membangun posisi Karawo di pasar fesyen nasional maupun internasional.

Kedua, eco-friendly atau ramah lingkungan. Proses pembuatan Karawo yang mengandalkan keterampilan manual dan tidak bergantung pada mesin dalam proses penyulamannya dapat menjadi bagian dari narasi produksi berbasis kerajinan tradisional. Pendekatan ini berpotensi memperkuat citra Karawo sebagai produk yang menghargai keterampilan manusia dan proses produksi yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Ketiga, sustainability atau keberlanjutan. Karawo bukan sekadar produk yang dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan pasar, melainkan juga warisan keterampilan yang diwariskan secara turun-temurun. Ketelatenan dalam memotong serat kain, mengikat, dan menyulam merupakan pengetahuan tradisional yang perlu dipertahankan sekaligus diteruskan kepada generasi berikutnya.

Selain persoalan promosi, Andi Juana turut menyoroti tantangan kesejahteraan pengrajin. Ia mengungkapkan bahwa proses pembuatan satu kain Karawo dapat melibatkan dua hingga tiga orang pengrajin. Sementara itu, berdasarkan informasi dan penelitian yang disinggung dalam diskusi, terdapat persoalan mengenai rendahnya imbalan yang diterima pengrajin, bahkan dalam beberapa kasus nilainya berada di bawah Rp100.000.

Kondisi tersebut menjadi perhatian penting ketika pengembangan Karawo diarahkan pada penambahan variasi motif dan peningkatan daya saing produk. Menurutnya, inovasi motif seharusnya tidak hanya mempertimbangkan tuntutan pasar, tetapi juga memperhatikan beban kerja, waktu produksi, serta imbalan yang layak bagi pengrajin.

Ia mengingatkan bahwa pengembangan motif yang semakin kompleks tanpa diikuti peningkatan nilai ekonomi bagi pengrajin justru berpotensi menambah beban pekerjaan mereka. Karena itu, promosi Karawo perlu diarahkan pada peningkatan apresiasi konsumen terhadap keseluruhan nilai produk, sehingga harga yang dibayarkan sebanding dengan keterampilan, waktu, dan kerja kreatif yang dicurahkan pengrajin.

Dalam konteks pengembangan pasar, Andi Juana juga menilai perlunya kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemerintah, komunitas pengrajin, dan lembaga terkait seperti Bank Indonesia melalui program pengembangan dan promosi produk kerajinan lokal. Dukungan tersebut dapat mencakup peningkatan keterampilan, penguatan kapasitas pemasaran, serta perluasan akses promosi melalui media digital dan jaringan pasar yang lebih luas.

Ia menambahkan bahwa penggunaan influencer dan strategi endorsement juga dapat menjadi bagian dari promosi Karawo. Namun, upaya tersebut perlu didukung koordinasi yang baik agar manfaat promosi tidak hanya terpusat pada satu produk atau pengrajin, tetapi dapat memberikan dampak lebih luas bagi ekosistem industri Karawo.

Menurutnya, pengenalan identitas dan cerita Karawo harus menjadi langkah awal sebelum persaingan diarahkan pada variasi motif maupun tren fesyen. Ketika masyarakat telah memahami nilai dan keunikan Karawo, peluang untuk memperkenalkan beragam desain dan inovasi produk akan semakin terbuka.

Pemikiran tersebut menegaskan bahwa digital marketing bukan sekadar sarana untuk memasarkan produk, melainkan juga instrumen edukasi, penguatan identitas budaya, dan pemberdayaan ekonomi pengrajin. Melalui konten yang informatif dan autentik, Karawo dapat memperoleh posisi yang lebih kuat di tengah persaingan industri fesyen modern.

Dengan demikian, penguatan pemasaran digital berbasis storytelling menjadi salah satu strategi penting untuk membawa Karawo dikenal lebih luas tanpa menghilangkan karakter tradisionalnya. Keunggulan Karawo bukan terletak pada seberapa cepat produk dihasilkan, tetapi pada nilai budaya, orisinalitas, ketelatenan, dan keterampilan manusia yang terkandung dalam setiap proses pembuatannya.

Karawo bukan sekadar kain, melainkan warisan budaya, keterampilan, dan identitas Gorontalo yang perlu terus diperkenalkan melalui cerita yang autentik kepada dunia.

(TIM HUMAS FEB_NLI)

Agenda

14 - 21 November 2025

Ajang Ekspresi dan Kreativitas Mahasiswa

Penyelenggara HMJ Pendidikan Ekonomi dan Sanggar Seni Oikos Nomos FEB UNG

30 Oktober - 13 November 2025

Semarak Hari Keuangan Ke XII

Penyelenggara Himpunan Jurusan Mahasiswa (HMJ) Akuntansi FEB UNG dimulai dari 30 Oktober - 13 November 2025

15 - 16 Oktober 2025

Audit Mutu Internal di FEB UNG 2025

Pelaksana LPMPP UNG dilaksanakan di Aula Prof. Kadir Abdusammad

26 - 28 Maret 2024

Asesmen Lapangan Pendirian Program Studi Doktor Ekonomi

Asesmen Lapangan Pendirian Program Studi Doktor Ekonomi