
Foto : Hawaria A. Doe - Mahasiswa Angkatan 2023 Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Gorontalo yang memiliki Usaha Delicious Piscok
Pewarta : Inkrianto Mahmud (Humas Jurusan Manajemen)
Gorontalo, 23 April 2026 - Menjadi mahasiswa itu sudah penuh tantangan. Tugas menumpuk, jadwal kuliah padat, belum lagi tekanan untuk lulus tepat waktu dengan nilai yang memuaskan. Tapi bagaimana kalau di tengah semua itu, kamu juga memutuskan untuk membangun usaha sendiri? Kedengarannya seperti resep untuk kelelahan total dan jujur saja, ada momen-momen di mana saya memang merasa seperti itu. Namun di sinilah saya sekarang, bersama kakak-kakak saya, dengan usaha bernama Delicious Piscok yang perlahan tapi pasti tumbuh dari dapur kontrakan kecil, melewati fase delivery dari rumah ke rumah, hingga kini sudah punya lapak sendiri. Ini cerita yang ingin saya bagikan untuk teman-teman mahasiswa yang mungkin sedang berdiri di persimpangan yang sama.
Kenapa Harus Memulai Usaha?
Saya mahasiswa Jurusan Manajemen. Sejak semester pertama, saya sudah banyak belajar tentang perencanaan bisnis, strategi pemasaran, analisis pasar, dan manajemen keuangan. Semua teori itu terasa keren di atas kertas. Tapi ada satu pertanyaan yang terus mengganggu saya: "Kalau saya hanya belajar teori tanpa pernah mencoba praktiknya, apa bedanya saya dengan buku teks berjalan?"
Dorongan itu muncul berbarengan dengan kebutuhan yang sangat nyata — saya dan kakak-kakak saya tinggal bersama di sebuah rumah kontrakan, dan kami sama-sama merasa perlu punya penghasilan sampingan. Uang jajan tentu ada, tapi kami tidak ingin terus-menerus bergantung sepenuhnya. Kami ingin mandiri, setidaknya untuk memenuhi kebutuhan harian sendiri.
Suatu malam, kami duduk bersama di ruang tengah kontrakan dan mulai berpikir keras: "Kita harus punya usaha sampingan. Tapi usaha apa?" Kami tidak punya modal besar, tidak punya pengalaman berjualan, tapi kami punya dapur, punya waktu luang di sore hari, dan punya tekad yang sama. Di situlah percakapan itu mulai bergerak ke arah yang lebih serius.
Lahirnya Delicious Piscok
Setelah berdiskusi cukup panjang, kami akhirnya sepakat: jualan olahan pisang. Alasannya sederhana,bahan bakunya murah dan mudah didapat, pengolahannya tidak butuh peralatan mahal, dan hampir semua orang suka pisang. Dari situ kami mulai merancang menu.
Kami tidak hanya berhenti di pisang cokelat biasa. Kami bereksperimen dengan berbagai produk: pisang cokelat (piscok) klasik sebagai andalan pertama, banana roll dengan tampilan yang lebih modern dan kekinian, pisang kembung yang gurih dan mengenyangkan, hingga yang akhirnya menjadi bintang utama kami: pisang nugget mini renyah di luar, lembut di dalam, dengan berbagai varian topping yang bisa dipilih pelanggan sesuai selera.
Modal awal kami sangat terbatas, patungan dari tabungan masing-masing, cukup untuk membeli pisang, tepung, minyak goreng, aneka topping cokelat dan keju, serta plastik pembungkus. Tidak ada gerobak, tidak ada banner besar, tidak ada modal jutaan rupiah. Hanya kompor, wajan, dapur kontrakan yang sederhana, dan semangat yang masih segar.
Minggu-minggu pertama adalah eksperimen penuh tepung dan asap penggorengan. Kami mencoba berbagai komposisi adonan, ketebalan kulit, dan durasi penggorengan. Ada yang gosong, ada yang terlalu berminyak, ada yang kulitnya jebol sebelum sampai ke pelanggan. Setiap kegagalan kecil itu kami catat bersama, diskusikan, lalu perbaiki. Sampai akhirnya kami menemukan standar resep yang konsisten untuk setiap produk dan siap dijual.
Dari Posting hingga Delivery dari Rumah ke Rumah
Langkah pertama kami bukan membuka lapak — tapi memposting produk di media sosial. Kami foto produk semenarik mungkin, upload ke Instagram dan WhatsApp, lalu menunggu respons. Ternyata respons pertama itu datang lebih cepat dari yang kami bayangkan.
Pesanan mulai masuk, dan karena kami belum punya tempat jualan, kami jalankan sistem delivery dari rumah ke rumah. Saya atau kakak yang mengantarkan langsung ke alamat pembeli. Lelah? Tentu. Tapi setiap kali pesanan berhasil sampai dan pelanggan bilang senang, rasa lelah itu langsung terbayar.
Fase delivery ini mengajarkan kami banyak hal: bagaimana menjaga kualitas produk selama pengiriman, bagaimana mengelola waktu antara menggoreng dan mengantarkan, dan yang paling penting,bagaimana membangun kepercayaan pelanggan satu per satu.
Rutinitas Harian: Kuliah Pagi, Goreng Sore
Kalau ditanya bagian mana yang paling menantang dari semua ini, jawabannya jelas: manajemen waktu.Pagi hingga siang saya kuliah seperti biasa mengikuti kelas, mengerjakan tugas, diskusi kelompok. Begitu kelas selesai sekitar pukul 14.00 atau 15.00, saya tidak langsung istirahat. Saya pulang ke kontrakan, bergabung dengan kakak-kakak untuk menyiapkan bahan, lalu mulai proses produksi sekitar pukul 16.00. Berjualan berlangsung dari sore, sekitar pukul 17.00, hingga malam sekitar pukul 21.00 atau bahkan lebih.
Ada malam-malam ketika kami baru selesai membereskan semuanya pukul 22.00, lalu saya harus langsung buka laptop untuk mengerjakan tugas yang deadline-nya keesokan hari. Rasa lelah itu nyata — tangan pegal dari menggoreng, kaki pegal dari bolak-balik mengantarkan pesanan, kepala berat dari begadang. Tapi ada satu hal yang selalu membuat saya bertahan: ketika ada pelanggan yang kembali memesan dan bilang, "Pisang nugget mininya enak banget, besok pesan lagi ya!" Kalimat sesederhana itu terasa seperti bahan bakar yang mengisi ulang semangat kami.
Berjualan di Era Digital
Kami sadar bahwa di zaman sekarang, usaha tanpa kehadiran digital itu seperti toko tanpa papan nama. Maka sejak awal, kami serius mengelola media sosial untuk Delicious Piscok. Di Instagram, kami rutin memposting foto produk dengan pencahayaan yang baik — belajar otodidak dari konten-konten kreator makanan yang kami ikuti. Kami juga membuat konten TikTok berupa behind-the-scenes: proses menggoreng, momen packing pesanan, hingga video singkat menampilkan berbagai varian topping yang menggugah selera. Ternyata konten autentik seperti itu justru lebih menarik ketimbang konten yang terlalu formal dan kaku.
WhatsApp Business menjadi senjata andalan kami untuk menerima pesanan. Kami membuat katalog produk yang rapi, aktif membalas pesan dengan cepat, dan sesekali mengirimkan promo ke kontak pelanggan yang sudah pernah memesan. Strategi sederhana seperti "beli 5 gratis 1" atau promo akhir pekan ternyata sangat efektif dalam membangun loyalitas pelanggan.
Kekuatan Ada di Variasi dan Kualitas
Salah satu kunci yang kami pegang sejak awal adalah: jangan bosan berinovasi. Delicious Piscok tidak hanya menjual satu produk dengan satu rasa. Kami hadir dengan empat produk utama yang masing-masing punya karakter berbeda, dan setiap produk bisa dinikmati dengan berbagai pilihan topping — mulai dari cokelat, keju, matcha, tiramisu, hingga kombinasi dua topping sekaligus.
Di antara semua produk kami, pisang nugget mini terbukti menjadi yang paling diminati. Ukurannya yang mungil, teksturnya yang renyah, dan banyaknya pilihan topping membuat produk ini cocok untuk semua kalangan dari anak-anak sampai mahasiswa, dari camilan santai sampai hampers untuk acara.
Yang tidak pernah kami kompromikan adalah kebersihan dan kualitas bahan. Kami selalu menggunakan pisang segar, menjaga kebersihan alat masak, dan memastikan setiap produk dikemas dengan rapi sebelum sampai ke tangan pelanggan. Kami percaya bahwa pelanggan tidak hanya membeli rasa — mereka juga membeli kepercayaan bahwa produk yang mereka makan dibuat dengan bersih dan penuh perhatian.
Jatuh, Bangkit, Jatuh Lagi, Bangkit Lagi
Perjalanan ini tidak selamanya mulus. Ada periode di mana pesanan sepi — entah karena musim ujian yang membuat mahasiswa lebih hemat, atau karena cuaca hujan yang membuat orang malas keluar. Ada juga momen ketika harga bahan baku naik cukup signifikan, sementara kami belum berani menaikkan harga jual karena takut kehilangan pelanggan. Hasilnya? Margin keuntungan mengecil, bahkan beberapa kali kami hampir impas.
Yang paling berat adalah ketika rasa lelah dan ragu datang bersamaan: "Apakah ini worth it? Kenapa tidak fokus kuliah saja?"
Tapi setiap kali pikiran itu datang, kami kembali ke alasan awal: kami ingin belajar dari pengalaman nyata, bukan hanya dari buku teks. Dan ternyata kegagalan-kegagalan kecil itu adalah pelajaran paling berharga yang tidak bisa kami dapatkan di dalam kelas.
Dari kerugian kecil itu, saya belajar cara menghitung harga pokok produksi dengan benar. Dari pesanan yang sepi, saya belajar membaca pola permintaan pasar. Dari komplain pelanggan, saya belajar arti sesungguhnya dari customer service. Semua itu adalah ilmu yang tidak ternilai harganya.
Kuliah Lebih Bermakna
Salah satu dampak yang tidak saya antisipasi dari menjalankan usaha ini adalah: kuliah jadi jauh lebih bermakna.
Ketika dosen membahas break-even point, saya tidak sekadar mencatat — saya langsung menghitung titik impas Delicious Piscok di kepala. Ketika membahas marketing mix, saya langsung membandingkan dengan strategi yang sudah kami jalankan. Ketika belajar tentang manajemen operasional, saya sudah punya contoh nyata dari dapur kontrakan sendiri.
Teori dan praktik berjalan beriringan, dan itu membuat saya lebih mudah memahami materi sekaligus lebih percaya diri saat berdiskusi di kelas. Jurusan Manajemen membekali saya dengan kerangka berpikir yang sistematisdan usaha ini memaksa saya untuk menggunakannya setiap hari.
Delicious Piscok Hari Ini: Punya Lapak Sendiri
Ini bagian yang paling ingin saya ceritakan — dan yang paling membuat kami bersyukur. Setelah melewati fase berjualan via delivery dari rumah ke rumah, perlahan tapi pasti kami berhasil membangun kepercayaan pelanggan yang cukup untuk mengambil langkah berikutnya: membuka lapak sendiri. Mungkin bagi sebagian orang itu terdengar biasa saja, tapi bagi kami, lapak kecil itu adalah simbol nyata dari perjalanan panjang yang sudah kami lalui bersama.
Lapak mini, memang — tapi kami sangat bersyukur. Karena itu bukan sekadar tempat berjualan. Itu adalah bukti bahwa apa yang dulu hanya obrolan malam di ruang tengah kontrakan, kini sudah menjadi kenyataan yang bisa dilihat dan dikunjungi orang. Ada momen pertama kali lapak itu ramai, dan kami saling bertukar pandang sambil senyum-senyum sendiri — seolah berkata, "Kita berhasil sampai di sini."
Selain lapak, kami juga mulai menerima pesanan untuk acara-acara khusus — seminar kampus, bazar jurusan, arisan, hingga ulang tahun. Itu artinya Delicious Piscok bukan lagi sekadar jajanan rumahan — ia sudah mulai dipercaya sebagai produk untuk momen-momen yang berarti.
Mimpi yang Lebih Besar
Kami tidak ingin Delicious Piscok berhenti di lapak mini. Kami bermimpi menjadikannya sebuah brand yang dikenal luas — punya identitas visual yang kuat, packaging yang menarik, sistem produksi yang lebih terorganisir, dan mungkin suatu hari nanti bisa hadir di lebih banyak titik atau melayani pengiriman ke berbagai kota.
Lebih dari itu, saya ingin usaha ini bisa membuka lapangan kerja bagi orang lain. Dimulai dari lingkaran kecil — teman mahasiswa yang butuh penghasilan tambahan, atau warga sekitar yang membutuhkan pekerjaan. Mimpi ini mungkin masih di depan, tapi setiap pesanan yang masuk hari ini adalah langkah nyata ke arah sana.
Untuk Kamu yang Sedang Ragu
Kalau kamu sedang membaca ini dan ada ide usaha yang sudah lama mengendap di kepala — entah itu bisnis makanan, jasa desain, thrift shop, atau apapun — saya ingin bilang satu hal: mulailah, meski kecil.
Kamu tidak perlu modal besar. Kamu tidak perlu kondisi yang sempurna. Kamu tidak perlu menunggu lulus kuliah dulu. Dan kalau kamu punya saudara atau teman yang sevisi, ajaklah mereka — karena membangun sesuatu bersama orang-orang yang kamu percaya itu jauh lebih ringan dan jauh lebih bermakna.
Menjadi mahasiswa sekaligus pelaku usaha memang tidak mudah. Tapi percayalah — pengalaman yang kamu dapatkan dari proses itu nilainya jauh melampaui angka di transkrip akademikmu.
Kami memulai Delicious Piscok dari dapur kontrakan yang sederhana, dengan modal seadanya, dan rasa ragu yang tidak kecil. Kami sempat jatuh, sempat lelah, sempat ingin menyerah. Tapi kami tetap berjalan — dan sekarang kami punya lapak sendiri, pelanggan setia, dan mimpi yang semakin besar.
Kini giliran kamu. Jangan tunggu momen yang sempurna, karena momen sempurna itu tidak pernah datang sendiri. Ciptakan sendiri, mulai dari yang kamu punya, mulai dari sekarang.
Informasi selengkapnya:
Titik Maps: Delicious Piscok Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo
Media Sosial:
Instagram: deliciouspiscok12
TikTok: deliciouspiscok12
Penyelenggara HMJ Pendidikan Ekonomi dan Sanggar Seni Oikos Nomos FEB UNG
Penyelenggara Himpunan Jurusan Mahasiswa (HMJ) Akuntansi FEB UNG dimulai dari 30 Oktober - 13 November 2025
Pelaksana LPMPP UNG dilaksanakan di Aula Prof. Kadir Abdusammad
Asesmen Lapangan Pendirian Program Studi Doktor Ekonomi