PENDIDIKAN EKONOMI SEBAGAI KUNCI LITERASI FINANSIAL DI ERA DIGITAL: SEBUAH URGENSI BAGI MAHASISWA

Oleh: Fazri Mohehu . 7 Juni 2025 . 11:00:00

Wulan Mayasari Tambengi, S.Pd., M.Pd--Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, UNG.

Di tengah derasnya arus digitalisasi dan globalisasi, mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa dituntut untuk memiliki kemampuan literasi finansial yang baik. Tidak cukup hanya menguasai teori perkuliahan, mahasiswa juga harus mampu mengelola keuangan pribadi dengan bijak, terutama karena mereka mulai memasuki fase kehidupan yang lebih mandiri. Di sinilah pendidikan ekonomi memegang peran penting sebagai fondasi untuk membentuk pola pikir finansial yang rasional dan bertanggung jawab.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS), indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia mencapai 65,43%, sedangkan indeks inklusi keuangan berada pada angka 75,02%. Data ini mengungkap adanya kesenjangan antara tingkat pemahaman masyarakat terhadap keuangan dengan akses yang sudah tersedia terhadap produk dan layanan keuangan.

Salah satu kelompok yang menunjukkan tingkat literasi keuangan di bawah rata-rata nasional adalah mahasiswa, yang tergolong dalam kategori pelajar dan generasi muda. Meskipun mereka memiliki akses terhadap produk jasa keuangan, mahasiswa masih menunjukkan pemahaman yang terbatas mengenai prinsip dasar pengelolaan keuangan, risiko finansial, serta pemanfaatan layanan keuangan digital secara bijak. Bersama kelompok usia 15–17 tahun, mahasiswa menjadi bagian dari demografi yang perlu mendapatkan perhatian lebih dalam hal edukasi keuangan guna mendorong terciptanya generasi yang cakap secara finansial di era digital.

Mahasiswa sering kali menjadi target empuk berbagai tawaran keuangan digital, mulai dari pinjaman online instan, paylater, hingga investasi berbasis aplikasi. Tanpa pemahaman ekonomi yang cukup, mereka bisa terjebak dalam utang atau skema penipuan. Oleh karena itu, pendidikan ekonomi yang diberikan di perguruan tinggi tidak boleh hanya bersifat teoritis, melainkan harus aplikatif dan relevan dengan realitas digital yang mereka hadapi setiap hari.

Beberapa kampus di Indonesia sudah mulai menyadari pentingnya integrasi literasi finansial dalam kurikulum. Contohnya, Universitas Negeri Gorontalo (UNG) telah bekerja sama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk meningkatkan literasi keuangan digital melalui kegiatan kuliah umum yang menghadirkan pejabat OJK, seperti Deputi Direktur Pengawasan LJK OJK, untuk memberikan pemahaman tentang layanan dan produk keuangan digital kepada mahasiswa UNG. Selain itu, Organisasi atau kegiatan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Gorontalo (UNG) terkait literasi keuangan meliputi program seperti pengangkatan Duta Literasi Keuangan OJK dan kegiatan kolaborasi dengan OJK, Bursa Efek Indonesia (BEI), Pegadaian, dan Bank Mandiri untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang keuangan. Selain itu, FEB UNG juga melakukan program pengabdian masyarakat untuk meningkatkan pemahaman tentang literasi keuangan bagi mahasiswa dan masyarakat umum

Namun, tantangan dalam meningkatkan literasi finansial di kalangan mahasiswa masih cukup besar. Banyak dari mereka, khususnya yang berasal dari jurusan non-ekonomi, masih menganggap materi ekonomi sebagai sesuatu yang rumit dan kurang relevan dengan kebutuhan mereka. Padahal, literasi finansial merupakan kemampuan dasar yang penting dimiliki oleh semua kalangan, tanpa memandang latar belakang akademik. Pengetahuan seperti mengatur anggaran bulanan, memahami bunga pinjaman, mengenali instrumen investasi, hingga membaca laporan keuangan sederhana adalah keterampilan praktis yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari mahasiswa, terutama di tengah tantangan ekonomi dan perkembangan keuangan digital saat ini.

Era digital juga membuka peluang besar bagi mahasiswa untuk belajar ekonomi dan keuangan secara mandiri. Tersedianya aplikasi edukasi finansial seperti video pembelajaran di YouTube membuat akses terhadap pendidikan ekonomi lebih terbuka. Bahkan, banyak mahasiswa yang mulai mencoba investasi saham, reksa dana, dan kripto. Akan tetapi, tanpa dasar pendidikan ekonomi yang kuat, aktivitas ini bisa berujung pada kerugian daripada keuntungan.

Pendidikan ekonomi di perguruan tinggi perlu dikembangkan dengan pendekatan interdisipliner, melibatkan teknologi digital dan studi kasus nyata yang relevan dengan kehidupan mahasiswa. Pembelajaran berbasis proyek seperti membuat perencanaan keuangan pribadi, simulasi pasar saham, atau analisis risiko investasi dapat membentuk keterampilan praktis yang berguna dalam jangka panjang. Hal ini juga akan melatih mahasiswa menjadi pribadi yang mandiri secara finansial sejak dini.

Dengan memperkuat pendidikan ekonomi di kalangan mahasiswa, maka kita sedang menanam benih generasi muda yang cerdas finansial, tangguh menghadapi tantangan digital, dan siap menjadi pengambil keputusan yang bijak di masa depan. Literasi finansial bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan mendesak di era digital ini. Sudah saatnya mahasiswa tidak hanya menjadi agen perubahan sosial, tetapi juga agen perubahan ekonomi melalui pemahaman keuangan yang baik dan bertanggung jawab.

Agenda

14 - 21 November 2025

Ajang Ekspresi dan Kreativitas Mahasiswa

Penyelenggara HMJ Pendidikan Ekonomi dan Sanggar Seni Oikos Nomos FEB UNG

30 Oktober - 13 November 2025

Semarak Hari Keuangan Ke XII

Penyelenggara Himpunan Jurusan Mahasiswa (HMJ) Akuntansi FEB UNG dimulai dari 30 Oktober - 13 November 2025

15 - 16 Oktober 2025

Audit Mutu Internal di FEB UNG 2025

Pelaksana LPMPP UNG dilaksanakan di Aula Prof. Kadir Abdusammad

26 - 28 Maret 2024

Asesmen Lapangan Pendirian Program Studi Doktor Ekonomi

Asesmen Lapangan Pendirian Program Studi Doktor Ekonomi