
Gorontalo, 27 November 2025 - Dalam kegiatan diseminasi penelitian Jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo, Dr. Dra. Sri Endang Saleh, M.Si memaparkan hasil kajian mendalam mengenai keberlanjutan penghidupan nelayan di kawasan Bone Pesisir, Kabupaten Bone Bolango. Melalui analisis berbasis Sustainable Livelihood Framework (SLF), penelitian ini menggambarkan secara sistematis bagaimana lima modal utama : modal alam, manusia, sosial, fisik, dan keuangan, membentuk struktur penghidupan nelayan serta menentukan kemampuan mereka bertahan dalam menghadapi berbagai tekanan ekologis dan ekonomi.
Penelitian memanfaatkan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik skoring aset dan analisis Multiaspect Sustainability Analysis (MSA). Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa tingkat keberlanjutan penghidupan nelayan menghasilkan nilai indeks rata-rata 59,5, sebuah kategori yang diklasifikasikan sebagai cukup berkelanjutan. Indeks ini menandakan bahwa nelayan masih mampu mempertahankan penghidupan mereka, tetapi tidak berada pada posisi aman karena setiap modal memiliki tingkat prioritas dan kerentanan berbeda. Oleh karena itu, pemahaman terhadap indikator setiap modal menjadi kunci dalam merumuskan arah penguatan yang tepat.
Dalam pemaparannya, Dr. Sri Endang menegaskan bahwa modal alam merupakan modal paling kuat dengan skor 75. Indikator yang menonjol meliputi kondisi sumber daya ikan yang masih relatif terjaga serta keterjangkauan area tangkap. Namun, indikator paling sensitif dalam modal ini adalah dampak lingkungan, yang menjadi prioritas pertama karena perubahan iklim, tekanan ekologi, dan potensi eksploitasi berlebihan dapat mengancam keberlanjutan sumber daya alam di masa depan.
Modal manusia menempati posisi berikutnya dengan skor 70. Indikator utama yang sangat menentukan adalah pendidikan dan keterampilan nelayan, pengalaman melaut, serta tingkat kemandirian dalam mengelola usaha penangkapan. Prioritas tertinggi dalam modal manusia adalah peningkatan pengetahuan dan keterampilan teknis, diikuti oleh penguatan pengalaman praktis serta dukungan keluarga yang menopang keberlangsungan aktivitas nelayan. Peningkatan kualitas modal manusia dinilai sangat penting karena kapasitas sumber daya manusia menentukan kemampuan adaptasi terhadap perubahan teknologi dan dinamika pasar.
Selanjutnya, modal sosial memperoleh skor 60, menunjukkan kekuatan moderat yang harus terus diperbaiki. Indikator dalam modal ini mencakup solidaritas masyarakat, jaringan hubungan antar nelayan, keterlibatan dalam kelompok usaha, serta dukungan eksternal dari lembaga pemerintah maupun non-pemerintah. Prioritas tertinggi dalam modal sosial adalah penguatan dukungan eksternal dan akses informasi, dua faktor yang menjadi penentu kemandirian kelompok nelayan dalam menghadapi tekanan ekonomi dan lingkungan.
Modal fisik dengan skor 55 menunjukkan bahwa fasilitas dan sarana prasarana penunjang aktivitas melaut masih membutuhkan penguatan signifikan. Indikator modal fisik meliputi kondisi kapal dan alat tangkap, akses terhadap teknologi informasi, serta ketersediaan fasilitas penyimpanan dan infrastruktur pasar. Prioritas utama dalam modal fisik adalah pemenuhan teknologi dan informasi, karena ketersediaannya secara langsung berkaitan dengan efisiensi, keselamatan, dan prediktabilitas hasil tangkapan.
Aspek yang paling mengkhawatirkan terletak pada modal keuangan, yang hanya mencapai skor 37,5, menjadikannya modal dengan tingkat keberlanjutan paling rendah. Indikator dalam modal keuangan sangat dipengaruhi oleh stabilitas pendapatan, kemampuan menabung, akses kredit, pengeluaran operasional, serta fluktuasi harga hasil tangkapan. Prioritas pertama dalam modal keuangan adalah peningkatan tabungan dan investasi rumah tangga nelayan, diikuti dengan pengendalian biaya operasional dan peningkatan akses terhadap lembaga keuangan formal. Kondisi modal keuangan yang lemah menunjukkan bahwa nelayan berada dalam posisi rentan terhadap risiko pasar, perubahan cuaca, dan tekanan biaya produksi.
Melalui rangkaian indikator dan prioritas tersebut, Dr. Sri Endang menegaskan bahwa nilai indeks keberlanjutan 59,5 bukan hanya angka, tetapi representasi dari keseimbangan rapuh antara kekuatan dan kelemahan dalam struktur penghidupan nelayan. Modal alam dan manusia memberikan harapan, namun modal keuangan dan fisik menunjukkan perlunya intervensi segera dan terarah. Ia menekankan bahwa penguatan di setiap modal harus dilakukan selaras, tidak terfragmentasi, karena seluruh modal saling berkaitan dan membentuk satu kesatuan sistem penghidupan.
Penelitian ini menggambarkan bahwa keberlanjutan penghidupan nelayan di Bone Pesisir masih membutuhkan kerja bersama berbagai pihak untuk memperbaiki indikator-indikator yang lemah dan mendorong pembangunan pesisir yang lebih resilien dan adaptif. Melalui kajian berbasis indikator, indeks, dan prioritas seperti yang dipaparkan Dr. Sri Endang, arah kebijakan daerah diharapkan semakin tepat sasaran, berbasis bukti, dan mampu memberikan perlindungan jangka panjang bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada laut.
(TIM HUMAS FEB_NLI)
Penyelenggara HMJ Pendidikan Ekonomi dan Sanggar Seni Oikos Nomos FEB UNG
Penyelenggara Himpunan Jurusan Mahasiswa (HMJ) Akuntansi FEB UNG dimulai dari 30 Oktober - 13 November 2025
Pelaksana LPMPP UNG dilaksanakan di Aula Prof. Kadir Abdusammad
Asesmen Lapangan Pendirian Program Studi Doktor Ekonomi