
Wulan Mayasari Tambengi, S.Pd., M.Pd--Dosen Fakultas Ekonomi Dan Bisnis, UNG.
Dalam dunia yang terus berubah dan penuh tantangan ekonomi global, kurikulum pendidikan ekonomi di perguruan tinggi harus bertransformasi agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Namun, kenyataannya banyak mahasiswa masih belajar materi ekonomi yang sangat teoritis dan abstrak, sehingga sulit mereka kaitkan dengan kondisi ekonomi nyata yang mereka alami sehari-hari maupun tantangan di dunia kerja nanti.
Kritik terhadap kurikulum ekonomi yang terlalu teoritis bukanlah hal baru. Banyak praktisi pendidikan dan pelaku industri mengeluhkan bahwa lulusan ekonomi seringkali belum siap menghadapi dunia profesional. Mereka mungkin menguasai teori permintaan dan penawaran, tetapi mengalami kesulitan ketika diminta menganalisis laporan keuangan, memahami tren pasar, atau mengikuti dinamika ekonomi digital yang terus berkembang pesat.
Salah satu penyebab utama ketidaksesuaian ini adalah orientasi kurikulum yang masih mengutamakan hafalan konsep dan rumus ketimbang pengembangan keterampilan praktis yang dibutuhkan mahasiswa. Padahal, isu-isu ekonomi kontemporer seperti e-commerce, ekonomi kreatif, ekonomi sirkular, dan fintech merupakan bidang yang kini membuka peluang karier luas bagi para lulusan ekonomi.
Kurikulum yang relevan dengan dunia nyata harus memberikan mahasiswa pengalaman langsung melalui simulasi bisnis, analisis pasar lokal, atau kunjungan ke pelaku usaha dan institusi keuangan. Pendekatan seperti ini tidak hanya memperdalam pemahaman konsep, tetapi juga menumbuhkan kepekaan mahasiswa terhadap berbagai tantangan ekonomi yang nyata dan dinamis.
Pendidikan ekonomi yang baik juga harus mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis dan reflektif terhadap situasi ekonomi sekitar mereka. Mengapa harga bahan pokok sering naik? Apa dampak kebijakan moneter terhadap pelaku UMKM? Bagaimana perubahan iklim mempengaruhi biaya produksi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan melatih kemampuan analitis mahasiswa secara lebih kontekstual sekaligus membangun kesadaran sosial.
Relevansi kurikulum juga sangat penting untuk menjembatani kesenjangan antara dunia pendidikan dan kebutuhan pasar kerja. Banyak perusahaan kini mencari lulusan yang tidak hanya menguasai teori, tetapi juga adaptif, komunikatif, dan mampu bekerja sama dalam tim. Dengan memasukkan proyek kolaboratif, studi kasus nyata, dan penguasaan teknologi digital dalam kurikulum, perguruan tinggi dapat menghasilkan lulusan yang siap pakai dan memiliki nilai tambah.
Di tengah disrupsi teknologi dan perubahan pola konsumsi masyarakat, stagnasi kurikulum ekonomi hanya akan menghambat kemajuan mahasiswa dan perguruan tinggi itu sendiri. Oleh karena itu, pembaruan kurikulum adalah keharusan yang tidak bisa ditunda. Kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku industri harus diperkuat untuk merumuskan materi yang kontekstual, dinamis, dan sesuai kebutuhan zaman.
Pada akhirnya, pendidikan ekonomi yang relevan dengan dunia nyata akan melahirkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademis, tetapi juga mampu berperan aktif dalam kehidupan ekonomi masyarakat. Mereka akan menjadi agen perubahan, bukan sekadar pencari kerja, melainkan pencipta peluang baru. Dengan kurikulum yang tepat, perguruan tinggi dapat mencetak generasi masa depan yang siap, kritis, unggul dan berdaya saing tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Penyelenggara HMJ Pendidikan Ekonomi dan Sanggar Seni Oikos Nomos FEB UNG
Penyelenggara Himpunan Jurusan Mahasiswa (HMJ) Akuntansi FEB UNG dimulai dari 30 Oktober - 13 November 2025
Pelaksana LPMPP UNG dilaksanakan di Aula Prof. Kadir Abdusammad
Asesmen Lapangan Pendirian Program Studi Doktor Ekonomi