HARI PENDIDIKAN NASIONAL DAN TANTANGAN PENDIDIKAN EKONOMI DI ERA DIGITAL

Oleh: Fazri Mohehu . 2 Mei 2026 . 02:20:42

*Wulan Mayasari Tambengi*

Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNG

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) menjadi momentum penting untuk merefleksikan kualitas pengajaran, di mana sektor pendidikan ekonomi kini dihadapkan pada tantangan besar digitalisasi, mulai dari kesenjangan akses teknologi, rendahnya literasi finansial digital, hingga tuntutan adaptasi kurikulum berbasis artificial intelligence.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional tidak lagi sekedar menjadi seremoni tahunan, melainkan titik balik untuk mengevaluasi kesiapan sistem belajar menghadapi disrupsi teknologi. transformasi digital menjanjikan kemudahan akses ilmu, namun juga memperlebar jurang pemisah antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil.

Pendidikan ekonomi memegang peran penting dalam membentuk generasi muda yang cerdas. Namun sistem pendidikan kita masih menghadapi berbagai tantangan. Adapun tantangannya yaitu:

  1. Kesenjangan Akses dan Infrastruktur; di daerah perkotaan, akses internet dan fasilitas sudah memadai sementara di daerah pedesaan atau di daerah terpencil  jaringan internet belum memadai dan fasilitas masih terbatas. Sehingga siswa sulit mengakses materi ekonomi digital. Bagaimana mengajarkan ekonomi digital jika akses ke teknologi belum setara?
  2. Kompetensi Pendidik; Guru belum terlatih memanfaatkan perangkat digital, simulasi bisnis atau platform keuangan modern dalam kelas. Sehingga materi ajar ekonomi masih berfokus pada teori konvensional. Mengajarkan ekonomi di era digital membutuhkan lebih dari sekedar penjelasan teori. Siswa perlu praktik langsung dalam menganalisis data pasar, mensimulasikan usaha, memahami alur pembayaran digital, mengenali penipuan keuangan.    
  3. Rendahnya Literasi Ekonomi dan Keuangan Digital; masih banyak masyarakat termasuk kalangan pelajar, kurang memahami prinsip dasar pengelolaan keuangan, nilai investasi, resiko utang, hingga cara kerja mata uang digital dan transaksi tanpa tunai. Hal ini membuat kelompok muda rentan terhadap penipuan, utang konsumtif, dan tidak mampu memanfaatkan peluang ekonomi baru.   

Solusi dan langkah ke depan dalam menghadapi tantangan yaitu dunia pendidikan nasional harus direvitalisasi secara menyeluruh. Menghadapi berbagai tantangan tersebut, transformasi pendidikan ekonomi tidak cukup dilakukan melalui digitalisasi perangkat pembelajaran, tetapi harus diarahkan pada perubahan ekosistem pendidikan secara menyeluruh. Digitalisasi pendidikan perlu ditempatkan sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas, relevansi, inklusivitas, dan daya saing pembelajaran ekonomi. Oleh karena itu, diperlukan beberapa langkah strategis sebagai berikut.

Pertama, pemerataan akses dan penguatan infrastruktur digital pendidikan. Pemerintah bersama pemerintah daerah dan institusi pendidikan perlu memastikan tersedianya infrastruktur teknologi yang merata, terutama bagi sekolah dan perguruan tinggi di wilayah pedesaan, kepulauan, dan daerah terpencil. Penyediaan jaringan internet tidak cukup hanya berorientasi pada ketersediaan koneksi, tetapi juga harus disertai dengan perangkat pembelajaran, listrik yang memadai, laboratorium komputer, serta platform pembelajaran yang dapat digunakan dengan keterbatasan bandwidth. Model pembelajaran offline-online atau blended learning dapat dikembangkan sebagai alternatif bagi daerah dengan konektivitas terbatas. Dengan demikian, transformasi digital tidak justru menciptakan kesenjangan pendidikan baru antara peserta didik yang memiliki akses teknologi dan mereka yang tidak memiliki akses tersebut.

Kedua, penguatan kompetensi digital pendidik. Guru dan dosen merupakan aktor utama dalam memastikan teknologi memberikan dampak terhadap kualitas pembelajaran. Oleh sebab itu, pengembangan profesional pendidik perlu diarahkan tidak hanya pada kemampuan mengoperasikan aplikasi, tetapi juga pada kemampuan pedagogis dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran. Pendidik perlu dibekali kemampuan menggunakan analisis data, kecerdasan artifisial (artificial intelligence), simulasi bisnis, learning management system, platform perdagangan digital, serta berbagai aplikasi keuangan digital sebagai bagian dari pengalaman belajar. Pelatihan juga perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui microcredential, komunitas belajar, workshop, peer learning, dan pendampingan berbasis praktik agar kompetensi digital pendidik tidak berhenti pada pelatihan teoritis.

Ketiga, reformulasi kurikulum pendidikan ekonomi yang adaptif terhadap perkembangan ekonomi digital. Kurikulum pendidikan ekonomi perlu bergerak dari pendekatan yang dominan teoritis menuju pembelajaran yang kontekstual, aplikatif, dan berbasis pemecahan masalah. Materi seperti ekonomi digital, financial technology (fintech), perdagangan elektronik (e-commerce), ekonomi platform, analisis data, kewirausahaan digital, sistem pembayaran digital, investasi, perpajakan digital, keamanan transaksi, dan perlindungan konsumen perlu diintegrasikan secara proporsional dalam kurikulum. Integrasi tersebut juga perlu selaras dengan pendekatan Outcome-Based Education (OBE), sehingga capaian pembelajaran tidak hanya mengukur penguasaan konsep ekonomi, tetapi juga kemampuan peserta didik dalam menganalisis persoalan ekonomi nyata, mengambil keputusan berbasis data, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, dan menciptakan solusi inovatif.

Keempat, penguatan literasi ekonomi dan keuangan digital. Pendidikan ekonomi harus mampu membangun kemampuan peserta didik dalam memahami dan mengambil keputusan ekonomi di lingkungan digital. Literasi tersebut mencakup kemampuan mengelola pendapatan dan pengeluaran, memahami risiko utang dan kredit digital, mengevaluasi produk investasi, mengenali biaya dan risiko transaksi digital, memahami keamanan data pribadi, serta mengidentifikasi praktik penipuan dan manipulasi informasi keuangan. Pembelajaran dapat dilakukan melalui studi kasus, simulasi pengelolaan keuangan, proyek penyusunan anggaran, analisis produk keuangan digital, dan simulasi investasi. Dengan pendekatan tersebut, literasi keuangan tidak hanya menjadi pengetahuan deklaratif, tetapi berkembang menjadi kecakapan pengambilan keputusan ekonomi yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kelima, integrasi kecerdasan artifisial secara etis dan pedagogis. Perkembangan artificial intelligence perlu direspons secara kritis, bukan sekadar dengan melarang penggunaannya dalam pembelajaran. Peserta didik perlu diarahkan untuk memahami bagaimana AI dapat digunakan sebagai alat bantu dalam mencari informasi, menganalisis data ekonomi, membuat proyeksi sederhana, mengembangkan ide bisnis, dan menyelesaikan masalah. Pada saat yang sama, pendidikan perlu menanamkan etika penggunaan AI, termasuk verifikasi informasi, transparansi penggunaan teknologi, perlindungan data pribadi, hak kekayaan intelektual, serta kesadaran terhadap bias algoritma. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menjadi pengguna yang kritis, etis, dan bertanggung jawab.

Keenam, pengembangan pembelajaran berbasis pengalaman dan kewirausahaan digital. Pendidikan ekonomi perlu memberikan ruang yang lebih besar bagi peserta didik untuk mengalami secara langsung proses ekonomi dalam lingkungan digital. Peserta didik dapat diberikan proyek untuk mengembangkan digital business, mengelola toko daring, melakukan pemasaran melalui media sosial, menganalisis perilaku konsumen, menyusun laporan keuangan sederhana, hingga mengevaluasi kinerja usaha berdasarkan data penjualan. Pendekatan project-based learning, problem-based learning, dan case-based learning dapat digunakan untuk menghubungkan teori ekonomi dengan praktik. Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran ekonomi diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memahami konsep ekonomi, tetapi juga memiliki kemampuan adaptasi, kreativitas, inovasi, dan orientasi kewirausahaan.

Ketujuh, penguatan kolaborasi antara institusi pendidikan, pemerintah, dunia usaha, industri, dan masyarakat. Transformasi pendidikan ekonomi tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada sekolah atau perguruan tinggi. Diperlukan ekosistem kolaboratif yang melibatkan pemerintah, industri teknologi, lembaga keuangan, pelaku UMKM, perusahaan fintech, komunitas, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut dapat diwujudkan melalui program magang, guest lecture, studi lapangan, proyek bersama, pengembangan laboratorium kewirausahaan digital, serta penyediaan kasus dan data ekonomi aktual sebagai bahan pembelajaran. Keterlibatan dunia usaha juga penting agar kompetensi yang dikembangkan dalam pendidikan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan ekonomi.

Kedelapan, penguatan keamanan digital dan perlindungan peserta didik. Semakin luas penggunaan teknologi dalam pendidikan dan aktivitas ekonomi, semakin besar pula risiko keamanan siber, pencurian identitas, kebocoran data, penipuan digital, dan penyalahgunaan informasi. Oleh karena itu, keamanan digital harus menjadi bagian integral dari pendidikan ekonomi di era digital. Peserta didik perlu dibekali kemampuan menjaga kata sandi, mengenali phishing, memverifikasi tautan dan sumber informasi, menjaga kerahasiaan data pribadi, serta memahami hak dan tanggung jawab sebagai konsumen digital. Pendidikan ekonomi dengan demikian tidak hanya membahas bagaimana memperoleh dan mengelola sumber daya, tetapi juga bagaimana melindungi sumber daya dan informasi dalam ekosistem digital.

Kesembilan, pengembangan sistem evaluasi pembelajaran yang berbasis kompetensi dan data. Transformasi digital juga perlu diikuti perubahan dalam sistem penilaian. Evaluasi tidak seharusnya hanya mengukur kemampuan menghafal konsep, tetapi perlu mengukur kemampuan berpikir kritis, analisis data, pemecahan masalah, pengambilan keputusan ekonomi, literasi digital, dan kreativitas. Penggunaan asesmen digital, portofolio, proyek, studi kasus, simulasi, serta analisis hasil belajar berbasis data dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai perkembangan kompetensi peserta didik. Data hasil asesmen selanjutnya dapat digunakan pendidik untuk memberikan pembelajaran yang lebih adaptif sesuai kebutuhan peserta didik.

Pada akhirnya, tantangan pendidikan ekonomi di era digital harus dipandang bukan semata-mata sebagai persoalan teknologi, tetapi sebagai persoalan kesiapan manusia, kurikulum, institusi, dan ekosistem pendidikan. Teknologi hanya akan memberikan manfaat apabila diikuti oleh peningkatan kompetensi pendidik, pemerataan akses, pembaruan kurikulum, penguatan literasi ekonomi dan keuangan digital, serta penanaman etika dalam penggunaan teknologi. Oleh karena itu, momentum Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa transformasi pendidikan bukan sekadar memindahkan pembelajaran konvensional ke ruang digital, melainkan membangun sistem pendidikan yang mampu mempersiapkan generasi yang adaptif terhadap teknologi, kritis dalam mengambil keputusan ekonomi, inovatif dalam menciptakan peluang, serta bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi digital.

 

 

Agenda

14 - 21 November 2025

Ajang Ekspresi dan Kreativitas Mahasiswa

Penyelenggara HMJ Pendidikan Ekonomi dan Sanggar Seni Oikos Nomos FEB UNG

30 Oktober - 13 November 2025

Semarak Hari Keuangan Ke XII

Penyelenggara Himpunan Jurusan Mahasiswa (HMJ) Akuntansi FEB UNG dimulai dari 30 Oktober - 13 November 2025

15 - 16 Oktober 2025

Audit Mutu Internal di FEB UNG 2025

Pelaksana LPMPP UNG dilaksanakan di Aula Prof. Kadir Abdusammad

26 - 28 Maret 2024

Asesmen Lapangan Pendirian Program Studi Doktor Ekonomi

Asesmen Lapangan Pendirian Program Studi Doktor Ekonomi