Hari Lahir Pancasila: Meneguhkan Nilai Kebangsaan di Tengah Perubahan Zaman

Oleh: Fazri Mohehu . 2 Juni 2026 . 12:06:21

Gorontalo, 2 Juni 2026 — Setiap tanggal 1 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Momentum ini bukan sekadar pengingat atas lahirnya dasar negara, tetapi juga menjadi ruang refleksi bagi seluruh anak bangsa tentang sejauh mana nilai-nilai Pancasila masih hidup dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dosen Pendidikan Ekonomi Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Ratna Ahmad, S.Pd., M.Pd., menilai peringatan Hari Lahir Pancasila harus dimaknai lebih dari sekadar kegiatan seremonial. Di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta semakin terbukanya interaksi global, nilai-nilai Pancasila justru semakin penting untuk menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Pancasila bukan hanya teks yang dihafalkan, tetapi nilai yang harus dihidupkan. Tantangan kita hari ini adalah bagaimana menerjemahkan nilai-nilai Pancasila dalam tindakan nyata, baik di lingkungan keluarga, pendidikan, masyarakat, maupun dalam kehidupan berbangsa,” ujar Ratna.

Menurutnya, perkembangan zaman telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat. Teknologi digital, media sosial, dan arus informasi yang begitu cepat memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan memperoleh pengetahuan. Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan, seperti penyebaran informasi yang tidak benar, meningkatnya sikap individualisme, hingga munculnya perbedaan yang dapat memicu konflik apabila tidak disikapi dengan bijak.

Dalam kondisi tersebut, Pancasila memiliki peran penting sebagai kompas moral bangsa. Nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial perlu terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pancasila Harus Hidup dalam Kehidupan Sehari-hari

Ratna menjelaskan bahwa implementasi Pancasila dapat dimulai dari tindakan sederhana. Menghargai perbedaan, menjaga toleransi, membantu sesama, bermusyawarah dalam menyelesaikan persoalan, hingga bersikap adil merupakan bentuk nyata pengamalan nilai-nilai Pancasila.

“Sering kali kita berbicara tentang Pancasila dalam ruang-ruang formal, tetapi lupa bahwa nilai Pancasila sebenarnya dapat dimulai dari cara kita memperlakukan orang lain,” katanya.

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana menjadikan Pancasila sebagai bagian dari karakter, bukan hanya sebagai materi pelajaran. Generasi muda perlu memahami bahwa Pancasila bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka.

Di era digital, misalnya, nilai Pancasila dapat diterapkan melalui penggunaan media sosial secara bertanggung jawab. Generasi muda perlu membangun budaya komunikasi yang santun, tidak mudah menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, serta mampu menghargai perbedaan pandangan.

“Ruang digital juga merupakan ruang kehidupan masyarakat. Karena itu, nilai Pancasila harus hadir di sana. Kebebasan berpendapat harus tetap disertai tanggung jawab dan penghormatan terhadap orang lain,” ungkapnya.

Peran Pendidikan dalam Menanamkan Nilai Pancasila

Sebagai dosen, Ratna menilai dunia pendidikan memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada generasi muda. Pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan individu yang cerdas secara akademik, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki karakter dan tanggung jawab sosial.

Sekolah dan perguruan tinggi harus menjadi ruang untuk membangun budaya dialog, toleransi, kerja sama, dan kepedulian. Peserta didik perlu diberikan kesempatan untuk mengalami dan mempraktikkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata.

“Pendidikan harus mampu membentuk generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga memiliki karakter. Kecerdasan tanpa nilai dan tanggung jawab dapat membawa persoalan baru dalam kehidupan masyarakat,” jelas Ratna.

Ia menambahkan, Pancasila juga memiliki relevansi dalam pembangunan ekonomi. Nilai keadilan sosial mengingatkan bahwa pembangunan tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga harus memberikan manfaat yang lebih luas bagi seluruh masyarakat.

Dalam perspektif ekonomi, pembangunan yang berlandaskan nilai Pancasila perlu memberikan ruang bagi masyarakat untuk berkembang dan memperoleh kesempatan yang adil. Pertumbuhan ekonomi harus berjalan seiring dengan upaya mengurangi kesenjangan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Menjaga Pancasila sebagai Perekat Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang besar dengan keberagaman suku, budaya, bahasa, dan latar belakang masyarakat. Dalam keberagaman tersebut, Pancasila menjadi titik temu yang menyatukan seluruh bangsa.

Ratna menilai, keberagaman bukanlah alasan untuk terpecah, tetapi merupakan kekuatan yang harus dijaga. Karena itu, semangat persatuan perlu terus diperkuat, terutama di tengah perkembangan media digital yang terkadang justru memperbesar perbedaan.

“Berbeda bukan berarti bermusuhan. Pancasila mengajarkan kita untuk tetap memiliki ruang bersama sebagai bangsa Indonesia. Perbedaan pandangan harus diselesaikan melalui dialog, musyawarah, dan sikap saling menghormati,” tuturnya.

Peringatan Hari Lahir Pancasila menjadi kesempatan untuk kembali meneguhkan komitmen kebangsaan. Setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan meneruskan nilai-nilai yang menjadi dasar kehidupan bangsa.

Pada akhirnya, memperingati Hari Lahir Pancasila bukan hanya tentang mengenang sejarah lahirnya dasar negara. Yang jauh lebih penting adalah memastikan nilai-nilainya tetap relevan dan hidup dalam tindakan nyata.

“Jika Pancasila benar-benar hadir dalam cara kita berpikir, bersikap, dan bertindak, maka Pancasila tidak akan pernah kehilangan maknanya di tengah perubahan zaman,” pungkas Ratna.

Hari Lahir Pancasila harus menjadi pengingat bahwa kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh kuatnya nilai, karakter, persatuan, dan keadilan yang menjadi fondasi kehidupan Indonesia.

 

Agenda

14 - 21 November 2025

Ajang Ekspresi dan Kreativitas Mahasiswa

Penyelenggara HMJ Pendidikan Ekonomi dan Sanggar Seni Oikos Nomos FEB UNG

30 Oktober - 13 November 2025

Semarak Hari Keuangan Ke XII

Penyelenggara Himpunan Jurusan Mahasiswa (HMJ) Akuntansi FEB UNG dimulai dari 30 Oktober - 13 November 2025

15 - 16 Oktober 2025

Audit Mutu Internal di FEB UNG 2025

Pelaksana LPMPP UNG dilaksanakan di Aula Prof. Kadir Abdusammad

26 - 28 Maret 2024

Asesmen Lapangan Pendirian Program Studi Doktor Ekonomi

Asesmen Lapangan Pendirian Program Studi Doktor Ekonomi