
Kabupaten Gorontalo, 30 September 2025 – Dosen sekaligus Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Gorontalo (FEB UNG), Dr. Tri Handayani Amaliah, SE., Ak., M.Si., melaksanakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) pada 30 September 2025 di Desa Batulayar, Kabupaten Gorontalo. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari riset hibah BIMA 2025 yang berhasil diraih beliau dengan judul “Model Akuntansi Manajemen Inklusif Kosmopolitik Berbasis Motiayo untuk Penguatan Keberlanjutan Industri Kreatif Upiya Karanji di Gorontalo.” FGD dilakukan sebagai upaya penguatan hasil analisis data yang telah dilakukan. Kegiatan tersebut menghasilkan kerjasama antara inovator Upiya Ilamango Bapak Samsul Rahim dan Pengrajin Upiya Karanji yang terdapat di Desa Batu Layar untuk meningkatkan kualitas dan inovasi produk, kapasitas produksi, efisiensi manajemen usaha, serta perluasan akses pasar baik di tingkat lokal maupun nasional.
Apa yang dihasilkan dalam penelitian ini memberikan kontribusi bagi masyarakat pengrajin Upiya Karanji. FGD ini dihadiri oleh para pengrajin Upiya Karanji Desa Batulayar, yang dikenal sebagai desa dengan populasi pengrajin dan penghasil Upiya Karanji terbesar di Gorontalo. Bapak Samsul Rahim, seorang arsitek muda asal Pohuwato sekaligus Founder Oliniyaa Craft Group dan Ketua GEKRAF Pohuwato menjadi narasumber pada kegiatan tersebut. Sebagai praktisi dan inovator Upiya Ilamango (sebutan lokal Upiya Karanji), Samsul telah berkontribusi dalam mengembangkan desain dan motif Upiya yang kini diakui secara nasional, bahkan pernah digunakan oleh Presiden RI yang ketujuh, Bapak Joko Widodo.

Dalam FGD ini, Samsul Rahim berbagi pengalaman dan memberikan penguatan kepada para pengrajin tentang pentingnya inovasi desain dan kolaborasi lintas sektor dalam meningkatkan daya saing Upiya Karanji. Ia menekankan bahwa kreativitas dan kerja sama merupakan kunci agar produk lokal dapat bersaing di pasar yang lebih luas. Salah satu hasil konkret dari kegiatan ini adalah terjalinnya kerja sama antara Samsul Rahim dan para pengrajin Desa Batulayar dalam pengembangan desain Upiya baru yang lebih beragam dan memiliki nilai jual tinggi. Dalam kerja sama ini, Samsul bertanggung jawab atas inovasi desain dan pengembangan motif, sedangkan produksi dilakukan langsung oleh para pengrajin di Desa Batulayar yang dikenal memiliki jumlah perajin Upiya terbanyak di Gorontalo. Kolaborasi ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keaslian dan ciri khas Upiya Karanji sebagai produk budaya unggulan daerah.
Dr. Tri Handayani Amaliah dalam pemaparannya menekankan pentingnya penerapan nilai “Motiayo”, yakni budaya khas Gorontalo yang bermakna saling bahu-membahu untuk kebaikan bersama. Menurutnya, nilai ini dapat menjadi dasar kolaborasi yang berkelanjutan antara pengrajin, pemerintah, perbankan, akademisi, dan masyarakat. “Motiayo ini merupakan budaya Gorontalo yang telah diwariskan sejak jaman dahulu kala. Saya berpikir, nilai budaya ini tentunya dapat menjadi kekuatan yang luar biasa untuk para pengrajin upiya karanji yang ada di Gorontalo, sehingga dapat lebih berdaya saing dalam industri Upiya Karanji yang digeluti. Alhamdulillah, hasil penelitian ini kini telah diimplementasikan oleh masyarakat pengrajin upiya karanji di Desa Batulayar, sehingga mendorong mereka untuk terus berkembang menuju kesejahteraan yang lebih baik”, ujar Dr. Tri.
Beliau menambahkan bahwa selama ini masyarakat lebih mengenal Karawo sebagai ikon budaya Gorontalo, padahal Upiya Karanji juga merupakan warisan budaya yang memiliki nilai filosofi dan ekonomi tinggi. “Ketika masyarakat membeli dan menggunakan Upiya Karanji, sebenarnya mereka sedang ikut menerapkan nilai Motiayo. Semua pihak akan saling diuntungkan, pengrajin mendapatkan manfaat ekonomi, sementara masyarakat turut menjaga kebanggaan budaya lokal. Nilai Motiayo tidak hanya menjadi warisan budaya masyarakat Gorontalo tetapi juga merupakan kekuatan yang dapat dijunjung tinggi untuk memajukan upiya karanji setidaknya dapat sejajar denga popularitas karawo saat ini yang secara berkelanjutan akan menopang pertumbuhan pendapatan pengrajin upiya karanji dan mengangkat harkat dan martabat pengrajin upiya karanji” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, Dr. Tri berupaya memperkuat sinergi antara akademisi dan pelaku industri kreatif dalam menciptakan model pengelolaan usaha berbasis kearifan lokal. FGD ini diharapkan menjadi langkah awal pengembangan Upiya Karanji sebagai produk budaya unggulan Gorontalo yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun internasional.
(TIM HUMAS FEB_NLI)
Penyelenggara HMJ Pendidikan Ekonomi dan Sanggar Seni Oikos Nomos FEB UNG
Penyelenggara Himpunan Jurusan Mahasiswa (HMJ) Akuntansi FEB UNG dimulai dari 30 Oktober - 13 November 2025
Pelaksana LPMPP UNG dilaksanakan di Aula Prof. Kadir Abdusammad
Asesmen Lapangan Pendirian Program Studi Doktor Ekonomi