
(Foto : Danau Perintis di Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, tampak asri dengan panorama alam yang menjadi daya tarik wisata lokal (01/01/25) (Google Maps/Ripall).
Saat matahari mulai condong ke barat, Danau Perintis di Kabupaten Bone Bolango menampilkan pesona yang sulit diabaikan. Permukaan air yang tenang memantulkan cahaya senja, sementara pengunjung menikmati suasana bersama keluarga dan sahabat. Bagi banyak orang, Danau Perintis adalah tempat bersantai. Namun, di balik keindahan tersebut, tersimpan potensi ekonomi yang besar.
Potensi itu diungkap melalui sebuah penelitian yang dilakukan oleh Ramlawati Tabito, Syarwani Canon, dan Boby Rantow Payu, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Gorontalo. Dalam riset yang dipublikasikan pada JAE: Jurnal Akuntansi dan Ekonomi yang diterbitkan Agustus 2024, ketiganya menegaskan bahwa Danau Perintis bukan hanya aset wisata alam, tetapi juga aset ekonomi strategis bagi daerah.
Melalui pendekatan Contingent Valuation Method (CVM), penelitian ini mengukur kesediaan wisatawan untuk membayar dalam menikmati dan menjaga kualitas lingkungan Danau Perintis. Hasilnya menunjukkan bahwa rata-rata pengunjung bersedia mengeluarkan sekitar Rp106.100 per orang. Dengan jumlah kunjungan wisatawan yang mencapai hampir 40 ribu orang dalam setahun, nilai ekonomi total Danau Perintis diperkirakan mencapai Rp4,06 miliar per tahun.
Angka tersebut mencerminkan manfaat nyata yang dirasakan masyarakat sekitar. Kehadiran wisatawan mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi lokal, mulai dari pedagang makanan dan minuman, jasa parkir, hingga penyedia layanan wisata sederhana. Bagi warga di sekitar Danau Perintis, danau ini bukan hanya tempat rekreasi, tetapi juga sumber penghidupan.
Meski demikian, penelitian Ramlawati Tabito dan tim juga mencatat adanya tantangan serius, terutama terkait kebersihan lingkungan. Masih rendahnya kesadaran sebagian pengunjung dalam mengelola sampah berpotensi mengurangi daya tarik dan keberlanjutan Danau Perintis jika tidak segera ditangani.
Untuk itu, para peneliti merekomendasikan sejumlah strategi pengembangan. Di antaranya adalah mempertahankan keunikan dan kealamian Danau Perintis, meningkatkan kemitraan dengan pelaku ekonomi lokal, mengoptimalkan fasilitas pemancingan, menghadirkan kegiatan atau event wisata, serta memanfaatkan media sosial dan teknologi digital sebagai sarana promosi dan pengelolaan wisata.
Lebih dari sekadar angka, penelitian ini menghadirkan pesan penting: keindahan alam memiliki nilai ekonomi yang nyata jika dikelola secara bijak. Danau Perintis menjadi contoh bagaimana pariwisata berbasis lingkungan dapat mendorong kesejahteraan masyarakat, meningkatkan pendapatan daerah, dan tetap menjaga kelestarian alam—tanpa harus kehilangan pesona senja yang selama ini menjadi daya tarik utamanya.
(TIM HUMAS FEB_NLI)
Penyelenggara HMJ Pendidikan Ekonomi dan Sanggar Seni Oikos Nomos FEB UNG
Penyelenggara Himpunan Jurusan Mahasiswa (HMJ) Akuntansi FEB UNG dimulai dari 30 Oktober - 13 November 2025
Pelaksana LPMPP UNG dilaksanakan di Aula Prof. Kadir Abdusammad
Asesmen Lapangan Pendirian Program Studi Doktor Ekonomi